Kasus Kriminal Publik yang Dirasa Tidak Adil

Kasus Kriminal Publik yang Dirasa Tidak Adil

Indonesia merupakan negara hukum yang punya aturan dan perundang-undangan yang mengatur setiap masyarakatnya. Namun sayangnya, hukum yang berlaku ini dirasa tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Tak hanya itu saja, ada beberapa kasus kriminal publik yang dirasa tidak adil bagi pelaku. Terlebih bila dibandingkan kasus kriminal lainnya yang tergolong kriminal berat tetapi hukumannya hanya ringan. Misalnya yang sering terjadi adalah koruptor yang hukumannya rendah berbending terbalik dengan seorang nenek yang tertangkap mencuri tiga buah kakao. Malahan banyak kasus pula dimana koruptor masih bisa menghirup udara bebas ataupun dapat sel tahanan yang mewah. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan rakyat kecil yang sangatlah tajam bagi mereka. Nah, terdapat beberapa kasus kriminal yang dirasa tidak adil oleh publik. Kasus-kasus ini dirangkum menjadi dua kategori yakni yang melibatkan masyarakat biasa dan yang melibatkan pejabat atau pemerintah.

Kasus Kriminal Publik oleh Masyarakat Biasa yang Dianggap Tidak Adil

Kasus Kriminal Publik yang Dirasa Tidak Adil

Sebenarnya ada banyak sekali kasus kriminal publik tidak adil yang melibatkan masyarakat biasa. Dari beragam kasus yang ada, berikut adalah kasus-kasus yang paling menggemparkan masyarakat Indonesia:

  • Ancaman Hukuman Seumur Hidup Bagi Pelajar yang Membunuh Begal

Daftar pertama untuk kasus kriminal tidak adil yang melibatkan masyarakat biasa terjadi pada seorang pelajar yang membunuh begal. Pelajar tersebut berinisial ZA (16) yang terancam umuran seumur hidup. ZA menusuk pelaku begal sampai meninggal di lokasi kejadian. Peristiwa ini bermula saat ZA dan kekasihnya tengah berpacaran pada tempat kejadian, lalu munculah empat orang begal yang meminta dengan paksa sepeda motor dan handphone yang dipunyai. Selain itu, para begal juga mengancam akan memperkosa pacarnya. Alasan mengapa publik menganggap kasus ini tidak adil adalah karena apa yang dilakukan ZA adalah membela diri dan dakwaan yang dituntut untuk ZA adalah pembunuhan berencana tetapi nyatanya ZA dicegat saat sedang berpacaran oleh begal.

  • Divonis 1 Bulan Penjara Karena mencuri Tiga Buah Kakao

Seorang nenek bernama Minah yang di Jawa Tengah, harus rela divonis satu bulan penjara karena mencuri tiga buah kakao. Pencurian ini terjadi dalam perkebunan yang dimiliki oleh PT Rumn Sari Antam. Minah berdalih diambilnya tiga buah kakao ini untuk dijadikannya benih. Selama masa peradilan, Minah tidak didampingi penasihat hukum sama sekali dan nenek ini harus menjawab pertanyaan majelis hakim sendiri. Hal ini tentunya menjadi salah satu contoh betapa hukum di Indonesia sangat tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

  • Mencuri Semangka Berakhir Penjara

Ketidakadilan lainnya juga dirasakan oleh Basar Suyanto dan Kholil di Jawa Timur. Keduanya harus rela menjalani hukuman percobaan selama 15 hari akibat mencuri semangka. Sebelum vonis hukuman ini ditetapkan, sebelumnya, Basar dan Kholil sudah terlebih dahulu selama dua bulan ditahan sambil mendapatkan penyiksaan oleh penyidik. Hal ini tentunya tidak adil dengan perbuatan keduanya yang tergolong ringan.

  • DIvonus 1 Tahun Karena DIdakwa Mencuri Kayu

Seorang nenek asal Situbondo,, Jawa Timu bernama Asyanir pada tahun 2015 divonis berasalah karena terbukti mencuri kayu yang milik Perhutani. Pencurian yang dilakukan ini sebanyak dua batang jati yang hendak dipergunakan sebagai tempat tidur. Walaupun sudah divonis hukuman, Nenek Asyani berdalih bahwa dirinya tidak mencuri tetapi batang pohon tersebut diambil dari lahannya sendiri yang sebelumnya sudah diambil oleh alm. Suaminya.

Kasus Kriminal yang Melibatkan Pejabat atau Pemerintah yang Diangggap Publik Tidak Adil

kasus kriminal publik

Beberapa kasus kriminal publik tidak adil yang melibatkan pejabat atau pemerintah pun juga pernah terjadi. Berikut ini adalah rangkuman kasusnya:

  • Kasus Reklamasi Pantai Jakarta

Pada kasus reklamasi pantai Jakarta ini melibatkan MA, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) dan juga Pemprov DKI Jakarta bersama enam perusahaan swasta yang melakukan reklamasi. Awalnya MA telah mengabulkan permohonan kasasi oleh KLH yang menilai revitaliasi dan reklamasi pantura ilegal atau tidak asah secara hukum. Akhirnya Pemrov DKI Jakarta bersama keenam perusahaan swasta ini mengajukan PK. Dari sinilah hal yang dirasa aneh dan tidak adil adalah MA mengabulkan permohonan PK yang diajukan tersebut. Hal ini jelas bertentangan dengan putusan yang sudah MA berikan pada kasasi.

  • Kasus Susu Formula Berbakteri

Pada tahun 2008 silam, IPB memuat informasi dalam situs yang dipunyai mengenai adanya susu yang tercemar oleh bateri Enterobacter Sakazakii. Sayangnya pemerintah tidak mau memberikan publik informasi apa saja nama-nama dari merek susu tersebut. Akhirnya masyarakat biasa bernama Tobing mengajukan gugutan terhadap pemerintah karena tidak ingin membeberkan informasi merek susu yang sudah terkena bateri tersebut. MA pun membuat keputusan agar Mentri KEsehatan mengumumkan kepada publik nama merek susu formula yang tercemar Enterobacter Sakazakii ini tetapi sampai sekarang Menkes cs tetap tidak mau mengungkapkannya.