Kasus Kriminal Aparat Berupa Penyiksaan yang Ditemukan Oleh KontraS

Kasus Kriminal Aparat Berupa Penyiksaan yang Ditemukan Oleh KontraS

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengungkapkan bahwa ada banyak kasus penyiksaan yang dilakukan oleh kepolisian Indonesia. Tentunya hal ini amat meresahkan dan merugikan bagi para saksi ataupun orang yang sedang diintrograsi. Pasalnya bisa jadi karena saking beratnya penyiksaan yang terjadi membuat orang mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya. Sayangnya banyak dari kasus kriminal aparat kepolisian ini banyak yang tidak diketahui masyarakat ataupun malah disembunyikan. Untuk tau lebih dalam mengenai kasus kriminal yang satu ini, simak penyelidikan KontraS terhadap kasus kriminal penyiksaan ini yang dilakukan dalam periode Juni 2019 – Mei 2020. Selain itu, simak pula beberapa kasus penyiksaan yang terungkap ke publik baru-baru ini terjadi.

48 Kasus Kriminal Aparat Berupa Penyiksaan selama Juli 2019 – Mei 2020

Kasus Kriminal Aparat Berupa Penyiksaan yang Ditemukan Oleh KontraS

Dalam penyelidikan yang dilakukan KontraS, total sebanyak 48 kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian yang terjadi selama periode Juli 2019 – Mei 2020. Dari banyaknya jumlah kasus yang ditemukan ini KontraS menghimbau agar pihak kepolisian Indonesia membuat peningkatan model pengawasan terhadap jajarannya agar tidak ada lagi penyalahgunaan wewenang kepolisian terutama dalam melakukan hal yang masuk dalam tindakan kriminal yakni praktik penyiksaan. Sebanyak 48 kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian yang dilaporan KontraS ini dilaporkan oleh Revandee Anandar sebagai Kepala Biro Riset dan Dokumentasi KontraS. Dari jumlah tersebut, kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian terbanyak ada pada lingkaran Polres dengan total sebanyak 29 kasus penyiksaan. Lalu posisi kedua ada Polsek yang punyai 11 kasus penyiksaan dan terakhir ada Polda dengan adanya 8 kasus penyiksaan. Model penyiksaan yang dilakukan aprat ini pun beragam. Yang paling banyak adalah penyiksaan yang dilakukan dengan tangan kosong yang berjumlah 35 kasus. Tak kalah banyak berikutnya adalah kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian dengan mempergunakan benda keras, listrik serta senjata api.

Revanlee mengungkapkan dugaanya terkait kurang baik dan lancarnya proses pembinaan antara kesatuan kepolisian Indonesia sehingga praktik penyiksaan yang tergolong cukup banyak ini terjadi. Baik kontrol, evaluasi dan pembinaan terhadap aparat ini harus kembali diperkuat lagi agar kasus kriminal aparat kepolisian serupa tidak lagi terjadi. Sementara itu untuk motif yang selama ini banyak ditemukan dari kasus-kasus penyiksaan tersebut adalah agar bisa mendapatkan pengakuan dari yang sedang diinterogasi. Ada pula aparat kepolisian yang melakukan kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian ini dengan tujuan untuk memberikan hukuman akan apa yang sudah dilakukan. Mirinya lagi, temuan KontraS  mengungkapkan bahwa dari beragamnya kasus kriminal penyiksaan ini, terjadi di 39 kasus salah tangkap oleh kepolisiann dan hanya sembilan kasus yang sudah terbukti atau murni kriminal.  Walaupun sudah terbukti adanya kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian ini, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kasus ini banyak yang tidak diketahui masyarakat karena memang tidak pernah diproses secara pidana.  Proses dalam kasus kriminal inipun sayangnya hanya dianggap sebagai pelanggaran disiplin saja.

Daftar Kasus Kriminal Penyiksaan oleh Aparat Kepolisian yang Terungkap ke Publik

kasus kriminal aparat

Berikut adalah beberapa kasus kriminal penyiksaan aparat kepolisian yang terungkap ke publik baru-baru ini:

  • Penyiksaan Saksi oleh 9 Personel Polsek Percut Seituan

Pertama ada kasus kriminal aparat kepolisian oleh Polsek Percut Situan yang melakukan penyiksaan terhadap Sarpan yang merupakan saksi kasus pembunuhan. Akibat kasus ini, sembilan personel Polsek ini harus rela dibebastugaskan.  Dari 9 personel ini yang terbukti bersalah dengan melakukan penganiayaan besar ada sebanyak enam orang. Adapun Sarpan sempat ditahan oleh penyidik Polsek Percut Seituan daln selama ditahan tersebut, dia disiksa dan dianiaya hingga diirnya babak belur. Metode penganiayaannya adalah pemukulan muali dari dada, punggung sampai muka. Bahkan mata Sarpan harus dilakban oleh oknum aparat.

  • Penyiksaan Musisi Ananda Badudu

Berikutnya ada seorang musisi bernama Ananda Badudu yang mengaku sudah disiksa polisi seperti yang dialami oleh Dede Lutfi Alfiandi. Hal ini diungkapkan oleh musisi tersebut lewat akun twitter yang dipunyainya. Menurut kesaksian Badudu, dirinya ketika dibawa ke Polda sempat mengalami jabakan, tendangan, pemukulan, sampai di keplak dan dipiting berkali-kali. Badudu mengaku tidak langsung membuka suara terkait penyiksaan yang diterimanya ini karena sudah diancam oleh pidana baru bakan disomasi. Ketika mendapatkan perlakuan tersebut, Badudu hanyalah seorang saksi yang menurutnya tak seharusnya mendapatkan perlakuan kekerasan yang tergolong berat ini.

  • Penyiksaan Pengamen FIkri Pribadi

Fikri Pribadi merupakan seorang pengamen yang menjadi saksi penemuan mayat di kolong jembatan, samping kali cipulir Jakarta Selatan pada 2013. Namun dirinya malah mengalami penyiksaan saat diintrograsi oleh penyidik POlda Metro Jaya. DIa mengalami penyiksaan ini bersama dengan pengamen lainnya dan diminta oleh penyidik untuk mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Kasus ini sempat heboh di masyarakat Indonesia karena akhirnya Fikri harus ditahan padahal bukan dirinya yang menjadi pelaku.